Ojek Pangkalan vs Go-Jek Ramai Di Media Sosial
TEKNOOLOGIA.com, Jakarta - Go-Jek penyedia layanan jasa angkutan sepeda motor saat ini sedang menjadi bahan perbincangan di media sosial. Perbincangan ini berawal dari salah satu Go-Jek yang mendapatkan teror dari salah satu tukang ojek pangkalan yang tidak diajak bergabung dalam Go-Jek. Kini, perbincangan antara ojek pangkalan dengan Go-Jek ramai di media sosial.
Salah satu bukti konsumen Go-Jek yang beberapa hari lalu memposting melalui Path dan Facebook bernama Boris Anggoro menceritakan bahwa Go-Jek langganannya diusir dan diancam oleh ojek pangkalan kantornya yang Go-Jek tersebut rutin menjeput si Boris Anggoro di kantor.
Sedangkan pihak Go-Jek membuat pernyataan resmi bahwa pihaknya hadir bukan untuk menjadi pesaing ojek pangkalan. Melainkan untuk membantu ojek pangkalan dapat berkembang dan meningkatkan kenyamanan serta kepercayaan dari konsumen yang biasa menggunakan jasa Ojek.
Pihak Go-Jek justru mengajak seluruh ojek pangkalan untuk dapat bergabung dan menikmati keuntungan menjadi pengendara Go-Jek. Namun, sebagian besar ojek pangkalan tidak bersedia untuk bergabung dengan alasan Go-Jek justru ribet karena sistem aturan yang digunakan salah satunya adanyaa potongan biaya yang harus disetorkan kepada pengelola Go-Jek.
“Ribet, duitnya kan dibagi dua sama yang punya (Go-Jek). Kami mending mangkkal lama-lama di sini, tetapi hasilnya jelas masuk kantong sendiri”, ujar salah satu tukang ojek pangkalan di sekitar senanyan.
Go-Jek memang menerapkan sistem bagi hasil dimana pembagiannya adalah 80 persen untuk karyawan itu sendiri dan 20 persen untuk perusahaan pengelola.
Uniknya, fasilitas yang disediakan Go-Jek untuk karyawannya yaitu dibekali dengan smartphone sehingga karyawan akan berinteraksi langsung dengan konsumen melalui aplikasi Go-jek di smartphone nya. Akan tetapi fasilitas yang diberikan Go-Jek ini tidak cuma-cuma diberikan, karyawan yang bergabung Go-jek disuruh untuk membayar smartphone tersebut dengan sistem cicilan. Hal ini juga menjadi beberapa alasan ojek pangkalan yang enggan untuk bergabung dengan Go-Jek.
Selain itu, sistem pembayarannya menggunakan Go-Jek Credit. Sehingga pelanggan dapat melakukan top-up dengan pulsa untuk transaksi. Sehingga pendapatan pengojek hanya dapat diambil langsung di kantor Go-Jek.
“Dengan adanya Go-Jek Credit menghindarkan oknum nakal yang memakan gaji buta”, kata Khusnul Khotimah, konsumen yang pernah menjajali fasilitas Go-Jek.
Kemudian beberapa alasan ojek pangkalan yang enggan untuk bergabung dengan Go-Jek yaitu tarif yang telah ditentukan. “Soalnya (kalau pakai Go-Jek) ngga bisa nawar. Kan kalau pakai Go-Jek, Go-Jeknya yang udah nentuin tarifnya” ujar seorang ojek pangkalan yang enggan disebutkan namanya.
Model transaksi non-tunai tampaknya masih menjadi kendala bagi pengendara ojek pangkalan untuk bergabung dengan Go-Jek. Padahal, menurut pengakuan salah satu pengendara Go-Jek, ia merasa lebih untung dengan bergabung ke pengelola layanan itu.
Dilansir dari Kompas.com yang bersumber dari Muhammad Nizar (47) mengaku bahwa dengan adanya pekerjaan di Go-Jek dirinya dapat mengatur waktu bersama keluarga dan waktu tudak terbuang hanya untuk mangkal. Selain itu pendapat per bulannya rata-rata dapat mencapai Rp 4 juta.
Baca Juga :
Telah Hadir UberDrivve, Aplikasi Game Penyedia Sewa Mobil
Turis Hobi Foto Telanjang di Tempat Wisata, Dijatuhkan Sanksi !






